Judul:Long-Term Outcome of Cognitive Behavior Therapy Versus Relaxation Therapy for Chronic Fatigue Syndrome: A 5-Year Follow-Up Study
Pengarang: Alicia Deale, Ph.D., Kaneez Husain, B.Sc., Trudie Chalder, Ph.D., and Simon Wessely, M.D.
Link: http://ajp.psychiatryonline.org/cgi/content/full/158/12/2038?maxtoshow=&HITS=10&hits=10&RESULTFORMAT=1&andorexacttitle=and&andorexacttitleabs=and&fulltext=behavior+therapy&andorexactfulltext=and&searchid=1&FIRSTINDEX=0&sortspec=relevance&resourcetype=HWCIT
Review: Jurnal ini mengevaluasi tentang hasil dari suatu masa yang panjang tentang terapi perilaku kognitif melawan terapi istirahat bagi pasien-pasien yang menderita sindrom kelelahan kronis. 60 pasien di antaranya berpartisipasi dalam sebuah percobaan yang dikontrol secara acak dari terapi perilaku kognitif melawan terapi istirahat bagi penderita sindrom kelahan kronis diundang untuk melengkapi pengukuran penilaian diri dan berpartisipasi dalam wawancara selama 5 tahun pelaksanaan dengan juru taksir yang tidak mengerti tentang tipe perawatan. 53 pasien (88%) diikutkan dalam pelaksanaan pembelajaran: 25 menerima terapi perilaku kognisi dan 28 menerima terapi istirahat. Total dari 68% pasien yang menerima terapi perilaku kognisi dan 36% yang menerima terapi istirahat menilai diri mereka sebagai “cukup diperbaiki” atau “sangat cukup diperbaiki” dalam pelaksanaan 5 tahun.
Terapi perilaku kognisi bagi sindrom kelelahan kronis dapat menghasilkan beberapa keuntungan, tetapi itu tidak dapat sembuh. Tiap berakhirnya terapi, beberapa pasien mengalami kesulitan dalam membuat perbaikan yang lebih jauh. Di masa yang akan datang, perhatian seharusnya diarahkan terhadap jaminan bahwa pertumbuhan dipelihara dan diperpanjang setelah pengobatan umum berakhir.